Peran Strategis Bisnis Kuliner Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Peran Strategis Bisnis Kuliner Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Peran Strategis Bisnis Kuliner Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut teori, kebutuhan pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia atau basic needs. Karena termasuk kebutuhan dasar, maka pemenuhan terhadap pangan menjadi hal mutlak jika manusia ingin tetap bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia baru akan bisa memikirkan untuk mencapai kebutuhan lainnya.

Namun, hal tersebut tampaknya tidak berlaku lagi sekarang. Pangan bukan lagi produk konsumsi untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia semata. Namun saat ini pangan menjadi sebuah gaya hidup baru di kalangan masyarakat. Pangan berubah menjadi sebuah industri kuliner yang tak hanya memberikan cita rasa saja, tapi juga kebutuhan lain manusia untuk bersosialisasi maupun beraktualisasi. Sebab, industri kuliner yang berkembang saat ini juga menyediakan ruang bagi konsumen untuk bisa berkumpul dengan komunitasnya melalui layanan ruangan maupun jasa lainnya.

Tidak mengherankan jika industri kuliner saat ini tumbuh sangat subur. Ada beberapa hal yang mengindikasikan hal tersebut. Hal ini setidaknya terlihat dari pola konsumsi masyarakat yang mulai bergeser ke masakan dan minuman (BPS, 2012). Selain itu, dari tahun ke tahun, usaha makanan atau restoran terus meningkat seperti yang tertuang di bawah ini:

1. Perkembangan Usaha Restoran/Rumah Makan Berskala Menengah Dan Besar Tahun 2007 – 2010
Sumbangan atau kontribusi sektor kuliner yang masuk dalam kategori perdagangan, hotel dan restoran dalam PDB juga cukup besar. Tiga sektor utama pembentukan PDB pada tahun 2008 – 2012 adalah sektor pertanian, sektor perekonomian dan sektor perdagangan, hotel, restoran. Ketiga sektor tersebut mempunyai peran lebih dari separuh dari total perekonomian yaitu sebesar 56,3% pada tahun 2008, 55,0% (2009), 53,8% (2010) dan 52,8% (2011) serta 52,3%(2012)

Pada tahun 2011 Sektor Industri Pengolahan memberi kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 24,3%, sektor pertanian 14,7%, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 13,8%. Sama halnya pada tahun 2012 komposisi ini tidak mengalami perubahan yaitu sektor industri pengolahan sebesar 23,6%, sektor pertanian 15,0%, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 13,7% (Data Strategis BPS, 2012).

Pada tahun 2006 saat roadmap industri kreatif disusun, sektor kuliner belum masuk menjadi salah satu bagian dari industri strategis yang akan dikembangkan. Hanya ada 14 subsektor yang menjadi perhatian utama pemerintah (Kemendag, 2008). Saat itu industri fesyen dan periklanan adalah penyumbang terbesar dalam pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Namun pada tahun 2011, posisi itu bergeser dan digantikan oleh industri kuliner yang sudah masuk menjadi subsektor ke 15 dalam industri kreatif. Subsektor kuliner menyumbangkan pendapatan terbesar bagi industri kreatif di Indonesia atau sekitar 32,2% dari total kontribusi industri kreatif terhadap PDB pada 2011 atau sekitar Rp169,62 triliun. Baru kemudian diikuti fesyen dan periklanan (Investor Daily, 2012).

Masuknya industri kuliner ke dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia merupakan kesadaran dari pemerintah akan besarnya potensi yang ada didalamnya. Selain karena jumlah penduduk Indonesia sebagai pasar domestik yang besar, Indonesia pun kaya akan keragaman lokal, yaitu beraneka makanan tradisional di tiap daerah. Pertumbuhan restoran atau usaha makanan di beberapa daerah di Indonesia semakin memperjelas hal ini.

2. Perkembangan Usaha Makanan/Restoran Skala Menengah dan Besar Tahun 2007-2010

Perkembangan usaha makanan skala menengah dan besar tahun 2007-2010 terlihat dari beberapa Provinsi di Indonesia seperti Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten dan Bali merupakan daerah yang mempunyai industri kuliner cukup besar. Namun terbesar masih diduduki oleh DKI Jakarta yang jumlahnya hingga ribuan. Padahal untuk daerah lain, potensi kuliner lokal masih banyak. Oleh sebab itu, ke depan sektor kuliner masih akan terus berkembang asalkan potensi lokal ini terus diberdayakan atau difasilitasi.

Nah untuk Anda yang sudah memulai bisnis kuliner bagaimana nih dengan bisnis kuliner anda. Bagaimana dengan bisnis anda saat ini apakah baik-baik saja? sehat-sehat saja? atau lagi kurang sehat? Ingin tahu bagaimana caranya menganalisa bisnis kuliner yang kurang sehat? Kebetulan sekali nih Empu lagi ada promo yang menarik dan sayang jika anda melewatkannya begitu saja… Promo apa dan seperti apa sih Empu??? Penasaran?? berikut ini promo dari empu…

Program Promosi Bisnis Kuliner Kurang BerdampakKULINERMORFOSIS? Apa itu? Penasaran? Yuk simak penjelasan berikut ini…

KULINERMORFOSIS
“STRATEGI LARIS BISNIS KULINER”

Dapatkan Solusi untuk 5 masalah utama bisnis kuliner :
1. Sepi Pengunjung
2. Omzet Kecil
3. Tampilan dan Kemasan Kurang Menarik
4. Promosi Kurang Berdampak
5. Aset Digital Tidak Terkelola

Beres, Tuntas dengan jurus KULINERMORFOSIS dari TataWarna Marketing Communication

Caranya Bagaimana Empu?

Caranya gampang banget cukup klik www.tatawarna.com/kulinermorfosis

atau ketik : nama (spasi) usaha (spasi) kota , kirim ke 0823-3110-7893


TataWarna 
Marketing Communication Peran Strategis Bisnis Kuliner Bagi Pertumbuhan Ekonomi
Jl. Soekarno-Hatta, Kawasan GS Blok L207 Malang
0341 414 564 – 0812 3358 5913

https://www.instagram.com/id.tatawarna/

https://www.facebook.com/IDTataWarna/

Peran Strategis Bisnis Kuliner Bagi Pertumbuhan Ekonomi

0 Comments

Leave your comment